Oleh: Ust. Syatori Abdurrouf Al Hafidz
Temanggung, Ahad 29 April 2012


Segala puji hanya milik Allah, Rabb penggenggam alam semesta. Sholawat dan salam semoga senantiasa tersanjungkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw.
Alhamdulillah dengan izin Allah, siang ini kita semua dipertemukan dalam majlis walimatul ‘ursy. Mudah-mudahan pertemuan ini diberkahi oleh Allah SWT. Mudah-mudahan pula barakah itu menimpa khususnya untuk kedua mempelai.
Hari ini alhamdulillah kita telah sama-sama menyaksikan satu peristiwa yang selama ini betul-betul menjadi rahasia. Rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh Allah SWT. Yaitu rahasia tentang jodoh anak manusia. Hari ini terjawab sudah jodoh itu. Tidak ada yang salah dalam soal penetapan-penetapan Allah SWT. Inilah yang terbaik, termasuk juga pertemuan kedua mempelai saat ini.
Begitu banyak kebaikan yang bisa diperoleh dari bertemunya kedua mempelai. Semoga bisa saling melengkapi dan memantapkan keduanya. Semoga kebaikan-kebaikan itu melimpah kepadanya dan kita semua. Semoga doa yang kita panjatkan kepada Allah untuk kedua mempelai “Barakallahulaka wabaraka ‘alaika wajama’abaina kuma fikhair”, tidak hanya doa berhenti di lidah, tapi kita sangat yakin tembus ke langit, diijabah dan dikabulkan oleh Allah SWT. Kita semua tahu bahwa keberkahan dalam apapun, lebih-lebih keberkahan dalam sebuah pernikahan yang harapkan oleh semua orang. Menikah itu sebenarnya Cuma sebentar. Karena itu betul-betul yang sangat diharapkan oleh kedua mempelai. Baik mempelai baru maupun lama adalah keberkahannya. Dan pengertian berkah dalam pernikahan adalah, kedua mempelai selalu tumbuh dalam kebaikan. Tumbuh dalam keyakinan. Yakin betul bahwa peristiwa akad nikah inilah peristiwa yang terbaik. Yakin betul bahwa ini memang sudah menjadi bagian takdir dari Allah. Dan tidak ada satupun takdir Allah kecuali kebaikan-kebaikan. Yang dari bahan bernama keyakinan ini, tumbulah orang-orang kebaikan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kedua mempelai berdua, tapi juga dirasakan oleh semua orang.
Untuk bisa menjadikan pernikahan barakah seperti ini, ada 3 pilar. Dan kita melihat ketiga pilar ini sudah ditegakkan kedua mempelai sebelum kedua mempelai ini bertemu. Ketiga pilar bagi barakahnya rumah tangga:

1. KUATNYA LOGIKA AKHIRAT BILA DIBANDING DENGAN LOGIKA DUNIA
Orang menikah itu sebenarnya betul-betul mengandalkan kuatnya logika akhirat bila dibanding dengan logika dunia. Karena itu Nabi SAW berpesan kepada para laki-laki, kalau memilih jodoh, apa kata Nabi? Ada salah satu hadits yang ini kadang salah dipahami oleh para laki-laki khususnya, “wanita itu dinikahi karena kecantikannya, keturunanya, hartanya dan agamanya”. Karena itu kaum laki-laki sangat bersemangat untuk mendapatkan jodoh dengan 4 kriteria tadi. Semangat sekali. Nabi sendiri bilang karena kecantikannya, karena keturunannya, karena hartanya. Itu kan berarti perintah? Tapi siapa yang bilang perintah? Yang perintah itu adalah “fadfar bidza tiddin”, carilah yang memiliki agama. Berarti seorang laki-laki sebelum menikah saja itu harus kuat logika akhiratnya. Bukti bila kuat logika akhiratnya bila dibanding dengan logika dunia adalah menjadikan agama sebagai kriteria nomor satu. Karena itu bagi laki-laki kalau ingin memilih jodoh itu gampang. Gak usah sampai mencari kriteria ke empat itu sampai tua gak bakalan ketemu. Kriterianya 2 saja bagi laki-laki, terutama yang belum. Pertama pastikan calon itu perempuan. Yang kedua agamanya baik. Sudah. Mau rambutnya kayak apa, wajahnya kayak apa, kulitnya kayak apa, itu semua relatif. Itu semua bukan menjadi sumber bagi kebahagiaan bagi bagi rumah tangga. Begitu banyak suami yang menderita karena kecantikan isterinya. Sehingga setiap kali suami melihat isteri, isteri melihat suami itu yang kemudian dipakai adalah logika akhirat.
Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah SWT. Kita lihat diri kita selama ini yang lebih kuat yang mana, logika dunia atau akhirat. Kalau seandainya kita bertemu dengan dua orang A dan B. A senyum kepada kita B manyun kepada kita. Siapa yang lebih baik kepada kita. A atau B? kebanyakan kita bilang A. Ketika kita mangatakan bahwa A lebih baik kepada saya daripada B itu pakai logika apa? Logika dunia. Kalau kita pakai logika akhirat, bahwa B yang manyun ini adalah yang baik kepada kita. Coba kita buktikan. A senyum kepada kita, kita pun senyum kepada dia. Ada pahalanya nggak? Ada, senyum dibalas senyum insyaallah ada pahalanya. Nah, B manyun kepada kita, tapi kita senyum kepada dia. Boleh nggak kita senyum kepada yang manyun? Boleh. Dan senyum kita kepada yang B ada pahalanya nggak? Ada. Nah mana yang lebih besar pahalanya, senyum kepada A atau senyum kepada B? ya, senyum kepada B. berarti kalau begitu B lebih baik kepada kita daripada A. Meskipun tentu saja manyunnya B tetap jelek untuk diri sendiri. Tetapi bagi kita lebih berbahagia. Karena pahalanya lebih baik. Maka perihalah isteri yang manyun ini, karena meski manyunnya jelek, tapi menjadi ladang pahala bagi kita.
Bapak ibu yang dirahmati Allah SWT, ini bicara tentang logika akhirat. Memang betul-betul bagi barakahnya rumah tangga sakinah mawadah warahmah akan bisa dicapai jika yang mendominasi dalam rumah tangga adalah logika akhirat. Karena itu orang yang memandang dengan logika akhirat dalam kekurangan suami disitulah kelebihan dia begitu sebaliknya.

2. TIDAK MENYIMPAN GANJALAN DIDALAM DIRI
Tidak menyimpan sesuatu. Betul-betul tidak menyimpan sesuatu. Karena problem dalam rumah tangga itu suka menyimpan. Suami menyimpan sesuatu kepada isterinya atau isteri menyimpan sesuatu kepada suaminya. Banyak suami yang menyimpan suatu kecewa, “ternyata isteri saya tidak bisa bikin sayur asem”. Itu kemudian menjadi alasan “kalau dulu mending saya cari yang lain”. Nah ini yang berbahaya, ini yang akan menyebabkan rumah tangga tidak akan bisa barakah. Menyimpan ganjalan itu bukan bagian dari sifat tabiat orang beriman. Karena itu kunci untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah dan juga barakah adalah LAPANG. Tidak menyimpan, bukan berarti segala sesuatu diomongkan. Yang kita maksudkan adalah selalu berusaha lapang, seperti apapun keadaan isteri, seperti apapun keadaan suami. Jadi betul-betul lapang, selapang-lapangnya. Dan bukti bahwa kita lapang kita IKHLAS dengan keadaan suami atau isteri adalah kalaulah isteri punya kekurangan dibalaslah kekurangan itu dengan kebaikan. Kalau Nabi SAW memang tidak ada contoh yang terbaik dalam soal kehidupan rumah tangga, kecuali beliau, ketika ‘Aisyah membuatkan sayur untuk Rasulullah SAW. Sesungguhnya sayur itu tidak enak. Tapi ketika disuguhkan kepada Rasul dan Rasul memakannya jelas itu tidak enak. Tapi wajah Rasulullah kelihatan senang. Seorang isteri yang masak kemudian dihidangkan kepada suami dan suaminya senang itu bagi isteri sangat bagahia. Rasul pun memakannya. ‘Aisyah senang. Tapi sengaja Rasul tidak menghabiskan bukan karena tidak suka. Tapi inilah cara memberitahukan sesuatu yang tidak disukai dari isteri dengan cara yang tidak menyakiti. Karena memang isteri harus diingatkan, ya harus diingatkan. Karena Rasul punya metode, punya cara yang membuat ‘Aisyah tersipu-sipu. ‘Aisyah pun bertanya, “ya Rasul kenapa kok tidak dihabiskan?” Kata Nabi, “saya memang tidak menghabiskan sendiri untuk yang masak kok tidak merasakan.” Akhirnya ‘Aisyah memakannya. Betul ketika dimakan rasanya tidak enak.
Jadi memang kesalahan, kekurangan itu harus diberi tahu tapi dengan cara yang baik, dengan cara yang enak.

3. SELALU MELIBATKAN ALLAH DALAM TIAP URUSAN-URUSAN YANG ADA KAITANNYA DENGAN RUMAH TANGGA
Jadi pertimbangan-pertimbangan selalu melibatkan Allah SWT. Misal “saya sudah tidak tahan dengan isteri, saya pengen marah kepada suami”. Boleh tidak pengen marah sama isteri? Boleh, kan Cuma pengen. Tapi kalau pengen marah betulan, cobalah minta izin dulu kepada yang di atas. “ya Allah saya pengen marah nih sama isteri saya, boleh tidak ya Allah?” ketika orang aktif pengajian pasti akan tau, “Oh nggak boleh”. Kalau begitu saya akan memberikan senyum terbaik kepada isteri saya. Begitu juga ketika suami belum bekerja dan ditawari pekerjaan, maka perlu pertimbangan diskusi dengan isteri dan libatkan Allah SWT. Kalau setiap rumah tangga selalu melibatkan Allah dalam setiap hal, insyaallah, Allah tidak akan menyia-nyiakannya sendiri. Allah pun akan selalu hadir dalam setiap urusan-urusan rumah tangga tersebut. Dan semoga inilah yang akan memberikan kebaikan bagi setiap rumah tangga. Sehingga khususnya kedua mempelai berharap bertemu kembali di surga, dan kita yang hadir disini pasti juga berharap bisa menyaksikan pernikahan kedua mempelai di surga nanti. Dan semoga peristiwa hari ini memberikan isyarat kepada kita bahwa kelak kita akan menyaksikan dan bertemua kembali dengan mereka di surga. Insyaallah.

ARTIKEL TERKAIT:
Dinda Marilah Melangkah....



0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda:

 
Rumah Cinta © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top